Review Trave(Love)Ing – Hati Patah Kaki Melangkah

Selamat pagi, teman-teman. It’s been a long time since the last time I wrote this blog. Do you miss me? Hihi

Anyway, postingan kali ini akan saya khususkan untuk mereview tentang sebuah buku. Well, you know how I love reading books. Jikalau mungkin, ingin rasanya membuka perpustakaan pribadi, dengan setiap ruangnya terbagi menjadi klasifikasi-klasifikasi tersendiri. Misalnya : fiksi, nonfiksi, pengetahuan umum, agama, komik, dan lain-lain. Duh, saya melantur. Hahaha, baiklah, mari kita mulai reviewnya.

Cerita akan saya mulai dengan asal muasal mengapa akhirnya saya berniat mereview buku ini. Karena sejujurnya, walaupun saya sangat suka membaca dan selalu mempublish kalimat-kalimat dari setiap buku yang saya baca di media social (twitter terutama), saya butuh lebih dari sekedar waktu yang fokus untuk menulis sebuah review. So, here it goes.

One day, salah satu penulis buku ini (Mia Haryono) menghubungi saya. Dia meminta saya untuk menjadi salah satu draft reader nya. As I said before, I love reading books so much. Mungkin itulah yang menjadi dasar mengapa Mia meminta saya untuk menjadi draft readernya. Akhirnya, di sela-sela kesibukan, saya berhasil mengirimkan hasil yang diminta (walaupun sebenarnya saat itu saya belum selesai membacanya). But no worries, saat saya membuat postingan ini, saya sudah selesai membaca bukunya (tentu saja). Bahkan besar kemungkinan, buku ini akan menjadi buku yang akan saya baca berulang-ulang. You want to know why? J

Beberapa waktu setelah buku ini resmi terbit dan dapat dibeli di semua toko buku terkenal di sekitar kita (if you know what I mean), Mia menghubungi saya lagi untuk menanyakan alamat rumah saya. Ternyata dia dan ketiga penulis lainnya ingin mengirimkan buku ini (it’s a very kind of them to give me this book, for FREE). Tapi ada catatannya : saya harus membuat review di blog saya. Nah, this is why I want to post this review. I hope you read this, and in the end, you’ll buy the book, haha.

This is it; Trave(Love)ing

Apa yang ada di benak kamu ketika mendengar kata ‘travel’ and ‘love’? Jawabannya bisa berbagai macam hal memang. Antara traveling untuk mencari cinta, traveling untuk menyembuhkan sakit hati karena cinta, atau bahkan traveling yang tidak disengaja dan pada akhirnya bertemu dengan cinta. Yang mana yang menurutmu paling menyenangkan? Well, sepertinya yang terakhir ya? Hehe. Tapi hidup tidak melulu harus tentang apa yang menyenangkan. Terkadang kita harus mengenal dan merasakan sakit agar lebih menghargai saat-saat bahagia, saat-saat dimana seseorang mampu membuat kita tersenyum lalu kemudian tertawa. Terkadang, sakit mampu mendewasakan. Semoga.

Ketika pertama kali saya membaca draft buku ini, ada beberapa hal yang sempat terbersit di benak saya : betapa saya menyukai tema yang disuguhkan buku ini, betapa saya merasa buku ini kaya akan pembenahan diri dan rasa optimis, betapa saya rasa pembacanya akan diberikan beberapa rasa sekaligus (if you want to know what are those, you have to read this book, really).

Traveloving adalah buku yang unik, menarik, dan segar untuk dibaca. Kenapa? Karena selain gaya penuturan bercerita keempat penulisnya yang seru, kocak, mengharukan, serta mudah untuk dipahami, buku ini juga menyuguhkan hal-hal menarik seperti adanya permainan rhyme (pantun dalam bahasa inggris) yang sangat saya suka. Pembaca akan dibuat tersenyum-senyum sendiri ketika membaca rhyme demi rhyme yang mereka suguhkan. Di sini, yang bisa saya katakan adalah ‘wow, how talented they are’.

Selain itu, buku ini tersusun atas pengalaman pribadi keempat penulisnya. Salah satu point menarik bukan? Cerita yang berasal dari pengalaman pribadi penulisnya selalu mampu membuat saya tertarik dan terkagum-kagum. Terlebih, buku ini adalah mengenai pergi ke suatu tempat untuk menyembuhkan sakit hati. Kamu sempat berpikir seperti itu? Saya rasa, butuh lebih dari sekedar modal materi, tapi juga modal keberanian dan tekad yang kuat. Inilah mengapa, buku ini menjadi buku yang menarik dan sangat layak untuk kamu baca (terlebih jika kamu memang sedang patah hati).

Ini lah komentar saya sebagai draft reader yang ada di dalam buku ini :

‘Membaca Traveloving seperti membuat saya sadar bahwa sebiru-birunya patah hati, ada pelangi yang harus selalu mampu kita lukis sendiri. Enjoy the story and treasure the (blue and red) feeling.

@TiaSetiawati – engineer who loves reading book for her brain and making poems for her heart.

Ini lah kebiasaan saya; membaca buku dan tak lupa membawa si kuning serta

Oh ya, hampir saja lupa. Inilah keempat penulis yang sudah sedari tadi saya sebut namun lupa belum menyebut nama lengkapnya :

  1. Roy Saputra
  2. Mia Haryono
  3. Grahita Primasari
  4. Dendi Riandi

Gaya bercerita keempat penulis ini tentu saja berbeda-beda. Namun satu yang saya kagumi, mereka menulis dengan sangat baik, santai, mengalir, dan apa adanya, dengan humor yang pas dan mampu membuat saya tertawa di beberapa bagiannya. Singkat kata, saya sempat tidak mengeluarkan buku ini dari tas saya, karena saya mulai ketagihan, lagi dan lagi menengok beberapa kalimat yang sengaja saya beri warna kuning. It’s fun to see the color in your book.

Saya akan memberikan beberapa rhyme yang ada di buku ini, selebihnya kamu bisa lihat sendiri di bukunya ya :p

  • I put my clothes in the bag, it’s time for me to pack. No this time I won’t beg, for you to come back. – Dendi Riandi
  • I love chocolate jelly, you love beef wagyuy. I’m traveling to Bali, just to forget you. – Grahita Primasari
  • I love traveling to the beach, while you love the mountain. You’re now out of my reach, only time can heal my pain. – Mia Haryono
  • Let’s travel this summer, to the beach and jungle. I envy the Twin Tower, because they have each other while I’m single. – Roy Saputra

So, Dendi pergi ke Singapore, Mia ke Dubai, Roy ke Malaysia, dan Grahita ke Bali. Empat tujuan traveling yang berbeda, dengan kisah di dalamnya yang juga berbeda, namun mereka berempat dengan satu tujuan yang sama; menyembuhkan patah hati agar hidup kembali berseri. Buat saya pribadi, itu hal yang luar biasa (yah daripada terpuruk lalu melakukan hal-hal yang negative kan?). Saya sendiri sempat terpikir untuk melakukan hal ini ketika saya patah hati, namun antara ketakutan dan lain-lain, saya belum sampai pada tahap seperti keempat teman saya ini. They are great in this case.

Jadi, akhir kata, kalau kamu sedang patah hati? Atau susah move on dan terpaku pada masa lalu? Atau ingin menemukan ‘sesuatu yang mencerahkan dan sekaligus membuatmu tersenyum sambil tetap terharu’, saya sangat menyarankan (ingat ya, ada kata ‘sangat’ di sini, hihi) kamu membaca buku ini. Ada rasa yang ingin dibagikan penulisnya, yang saya rasa kamu tak akan mampu menolaknya.

Empat dari lima bintang dari saya, masa kamu masih ga mau baca buku ini juga? :p

Nah, have a good day! 😉

15 thoughts on “Review Trave(Love)Ing – Hati Patah Kaki Melangkah

  1. Pingback: SEPTEMBER DAN KUIS KARENASEPTEMBERITUCERIA | archivelomba

  2. Udah kubaca dan hasilnya berangkat menuju jakarta buat rafting di sungai cimandiri. From samarinda to jakarta, obat patah hati yang hmm lumayan mahal hahahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s