It’s about ‘relief’ – Congratulation, dear Self

Hai, readers. Miss me? hihi🙂

anw, I have a very BIG news —> saya sudah MT! yeay!
So, from now on, I can write my name with : Tia Setiawati S.T., M.T.,

kalian pasti aware dong, dengan postingan-postingan saya sebelum ini, betapa terjalnya proses mengerjakan si Tesis itu, betapa banyak aral melintang, satu dua tiga empat lalu loncat ke seratus (okay, saya berlebihan). But well, serius, saya hampir ga percaya akhirnya Oktober ini saya berhasil sidang akhir, dengan jarak (hanya) seminggu dari seminar 2.

Okay, hanya untuk melengkapi kisah hidup saya yang mungkin akan sangat berkesan untuk dibaca lagi beberapa tahun ke depan, izinkan saya bercerita di sini ya (you may not want to say ‘No’ now :P)

Setahunan ini saya berpikir, mampukah saya menyelesaikan kuliah S2 saya dengan tepat waktu? mampukah saya memegang gelar M.T. tepat ketika usia saya 26 tahun? Karena to be honest, that’s what I want the most. jadilah, saya berniat menghadiahi diri saya sendiri kado spesial tahun ini.

dengan kepercayaan diri yang hampir hilang karena masalah teknis di Lab yang tidak kunjung selesai, alat lab yang rusak, ini itu, blah blah blah. At least, I think I have to make one decision. It’s now or it may become worse. So, here it is…

tanggal 26 September 2011 lalu (sehari sebelum 27 September 2011, oh please, I know that. I mean, it’s my birthday), akhirnya saya memaksakan diri saya untuk maju Seminar 2. Di sana memang tidak semenyeramkan yang saya bayangkan, hanya diisi dengan masukan-masukan dari 3 dosen. and yeah, rasanya seperti lega tahap 1, bukan karena masukannya sedikit lho (karena pada kenyataannya masukannya sangat sangat banyak), tapi karena akhirnya saya sudah melewati satu tahap, dan itu berarti saya semakin dekat ke tahap akhir.

Jadi, yang saya lakukan adalah menjadi robot selama sekitar 3-4 hari setelah tanggal 26 September 2011 itu. Robot yang kerjaannya hanya bangun tidur-makan-mandi-melototin laptop-makan-mandi-tidur-melototin laptop lagi- dan begitulah seterusnya sampai pada tanggal 4 Oktober 2o11.

So, tanggal 4 Oktober 2011 adalah hari dimana sidang akhir saya akhirnya dilaksanakan. Mungkin 3 point ini yang harus dijadikan pelajaran untuk kalian (yang belum atau akan melalui tahapan-tahapan ini) :

1. Jangan kurang tidur.
Klise? Oh come on, it’s not. Saya ingat, menjelang tanggal 4 Oktober itu, beberapa hari ketika saya menjadi robot, saya sangat sangat kurang tidur. 2 jam sehari itu kurang, karena bangun tidur rasanya melayang. sangat tidak baik untuk kesehatan (sure thing!)
Inilah yang paling parah, menjelang 1 jam sebelum sidang akhir, saya mengantuk, tidak tertahankan, jadi yang saya lakukan adalah tidur. 15 menit yang seperti surga kan sepertinya? but well, bangun-bangun saya menyadari satu hal karena ada sms masuk ‘Sidangnya dimajukan satu jam ya’.
yeah, IT IS!!!

2. Persiapkan dirimu jauh-jauh hari.
Ga bisa bohong deh, yang namanya siap dan tidak siap memang sangat berbeda. Lagi-lagi, waktu seminggu untuk mengerjakan persiapan menuju sidang, saya rasa mepet dan repot sekali. Yang ini hampir sempurna, yang itu belum. berputar terus siklusnya sampai saya rasa ‘Semuanya ga akan sempurna kalo memang itu yang dicari saat kamu memang tidak siap’.
Jadi, betapa banyak waktu terbuang saat kamu sempat bersantai-santai menunggu deadline. Lebih baik stabil, tidak terlalu santai, tapi selesai; daripada santai di awal, mepet di akhir, walau pada akhirnya memang tetap selesai.
Satu yang juga tidak kalah parah, menjelang 1 jam sebelum sidang, saya masih sibuk membuat slide presentasi. Gila? yeah, sayapun setuju😛

3. Bersiaplah untuk pertanyaan dosen penguji yang terburuk.
Oke, ini bukan sekedar pertanyaan yang standar dan sudah bisa kamu tebak akan ditanyakan oleh mereka (a.k.a dosen penguji). ini seperti sesuatu yang ‘Oh ya Tuhan, saya ga nyangka akan ditanyakan hal itu’. Nah, menurut saya, persiapan akan lebih matang jika kita sempat memikirkan hal ini. Because, what I had is less than ready, jadi saya kaget saat ditanyakan sebuah pertanyaan panjang lebar, yang terdengar seperti ‘jadi menurut kamu, apakah mungkin jika …… ? jika ya, bagaimana? jika tidak, mengapa?’.
rasanya waktu itu mau pingsan, tapi yang ada saya malah mengulur waktu dan bertanya balik ke dosen tersebut ‘maaf, pak, gimana tadi pertanyaannya?’. Ga kebayang seberapa BT nya si dosen ketika dia harus mengulang sebuah pertanyaan panjang dengan intro yang juga tidak kalah panjang.
ah, kamu tanya apa yang terjadi kemudian? Uhmmm, to be honest, saya hanya menjawab ‘Sepertinya tidak bisa ya, pak’. Dan mungkin saat itu orang tua saya sedang mendoakan saya, karena tiba-tiba si dosen puas dan move on! ah, legaaaaa… Miracle does happen😉

Nah, itu adalah sedikit tips. Semoga kita semua mengambil pelajaran ya, hihi.

Jika ada yang bertanya ‘seperti apa rasanya bergelar MT?’, inilah yang akan saya jawab :
‘melegakan, namun tidak terlalu membahagiakan sebahagia waktu saya memperoleh gelar ST’.

Walau usaha yang dilakukan jauh lebih besar (mungkin tidak bisa dibandingkan) antara S2 dan S1, namun bahagia itu tidak bisa dibuat seperti grafik linier. Karena, saya jujur mengatakan, saya lega, walau tidak terlalu bahagia.

So, ada pertanyaan tambahan? mungkin pertanyaan seputar ‘So, what’s your life after this?’ or ‘where do you go after this?’. Hold on, please. because I think, I need to take a time for that too.

Glad you read this, readers. have a blast moment, like I had one🙂

PS :
saya melewatkan satu postingan saat sibuk menulis postingan ini. Do you wanna know? It’s what happen on my 26th birthday. Wait, I’ll post it soon!😀

2 thoughts on “It’s about ‘relief’ – Congratulation, dear Self

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s