‘Tuhan, Aku Pikir Aku (sudah) Lupa Rasanya Merasa Bodoh’

Hari kedelapan di bulan Ramadhan.

Saat ini saya sedang rehat (niatnya sih hanya sebentar) dari mengerjakan Tesis saya yang tak kunjung mengalami kemajuan yang signifikan. Tesis saya ini saya ibaratkan seperti siput, majunya sedikit demi sedikit dan sungguh tidak signifikan (duh!). Lalu, kamu pasti bertanya ‘kok masih punya waktu untuk blogging?’. benar ga kamu sempat bertanya seperti itu? hehe. Ya, inilah salah satu hiburan untuk saya. Selain membaca novel dan buku (yang mana sudah mulai saya kurangi), saya tidak dapat meminta diri saya untuk berhenti menulis. Tidak sepertinya.

Beberapa jam yang lalu, saya sempat berapi-api membuka laptop, niat mengerjakan Tesis begitu menggebu-gebu. Jika tidak terdengar begitu berlebihan, saya ingin sekali berani mengatakan jika niat saya hari ini adalah Tesis saya sudah selesai sampai ke Bab Analisis (sekedar pemberitahuan, saya masih di tahap pengolahan data akhir saat ini). What a huge progress, isn’t it? But well, sayangnya, saat mulai mengerjakan step by step, lalu tersendat dan menemui beberapa pertanyaan, yang jika tidak terjawab sesegera mungkin, saya hanya akan mampu memandangi buku referensi tanpa mengerti apa maksudnya. Tibalah saatnya saya mencari jawaban kemana-mana. Well, tidak kemana-mana juga sih sebenarnya, hanya menyengajakan bertanya pada senior yang (alhamdulillah) baru saja resmi mendapatkan gelar PhD. nya. Lalu, dia menjawab dengan lumayan jelas mengenai pertanyaan-pertanyaan saya tersebut. Namun tetap, saya tidak dapat menemukan jawabannya, saya tetap harus mencarinya sendiri.

Entah sampai di bagian yang mana (sungguh tidak ingin saya ingat-ingat), saya merasa lemah, dan bagian terburuknya adalah saya merasa bodoh. Bodoh sebodoh-bodohnya mahasiwa S2. Dengan latar belakang pendidikan saya yang sejak dari pendidikan Sekolah Dasar (dan sayangnya mungkin berhenti saat saya masuk ke ITB) sudah menjadi unggul dibandingkan dengan teman-teman saya yang lain, hal ini menyedihkan. Lalu, tetiba saya tersadar akan sesuatu, sepertinya sejak dulu, merasa bodoh hampir tidak pernah saya rasakan, atau mungkin pernah namun saya terlupa akan hal itu? Entah.

Ya, merasa bodoh itu tidak menyenangkan. Tidak menyenangkan ketika kamu tidak terbiasa, tidak menyenangkan ketika kamu merasa kamu tidak. Dan yang paling menyedihkan, tidak menyenangkan ketika kamu hanya terpaku lalu berujar :
‘Tuhan, aku pikir aku sudah lupa rasanya merasa bodoh’
lalu sedetik kemudian kamu tersadar, kamu sedang diingatkan kembali.

3 thoughts on “‘Tuhan, Aku Pikir Aku (sudah) Lupa Rasanya Merasa Bodoh’

  1. artikel yang lugas. menyukai bagian ” Dengan latar belakang pendidikan saya yang sejak dari pendidikan Sekolah Dasar (dan sayangnya mungkin berhenti saat saya masuk ke ITB) sudah menjadi unggul dibandingkan dengan teman-teman saya yang lain, hal ini menyedihkan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s