Sudah sekuat apa usahamu?

Selamat sore menjelang senja!

Senang rasanya kembali mengisi blog ini dengan catatan keseharian saya, hehe. Waktu-waktu belakangan ini, kegiatan saya sebenarnya masih sama. Yah, jika kalian terbiasa membaca blog ini dari postingan satu ke postingan yang lain, pasti sudah bisa menebak kegiatan apa yang saya maksud kan? YEAH! Bertesis, berproyek, bersantai, bertwitter, dan ber yang lain-lain yang hanya sekedar menjadi penghiburan semata, hehe.

Anw, saya teringat salah satu postingan saya di twitter hari ini :

Kuliah s2 dibayarin instansi itu beban ya, dibayarin ortu lebih beban lagi, bayar sendiri? bah, mana mampu kalo sekarang *melipir *bersyukur🙂

Well, then. Entah kenapa tiba-tiba tercetus ide untuk menulis seperti itu. Antara sadar dan tidak sadar, tiba-tiba postingan ini mendapatkan respon yang lebih banyak dari biasanya (buktinya mention saya sedikit lebih banyak dari postingan sajak yang biasa, haha). Alhamdulillah, mention yang saya terima tidak aneh-aneh, hehe.

Sekilas melihat ke 2 tahun belakangan, mengingat-ingat kembali mengapa saya sampai pada tahap sekarang (berjuang untuk *lagi-lagi* mendapatkan gelar dan resmi keluar dari kampus ITB ini). Lalu saya teringat, dulu, sekitar April 2009, saya merasa sedikit bimbang untuk memilih antara s2 atau kerja. Sampai pada suatu waktu, kesempatan baik itu datang dan antara bertekad 100% atau setengahnya, saya memilih untuk mengambil jalan itu : meneruskan pendidikan saya ke jenjang s2. Dulu saya juga sempat menyesali lho, kenapa saya sampai bisa mengambil kesempatan itu ya? kenapa saya ga pikir-pikir lebih jauh? setelah akhirnya saya sampai pada tahapan ‘sekarang’. tahap dimana semuanya terasa membosankan, jenuh, penat, dan kepusingan lainnya. Bukanlah sesuatu yang terlalu bagaimana, jika saya katakan dengan jujur, pilihan untuk mengambil kesempatan kuliah s2 gratis sedikit melegakan. Melegakan karena saya tidak harus merepotkan pihak orang tua dengan biaya, namun disisi lain menjadi beban tersendiri, karena sepertinya langkah saya dimonitor.

and back to the present, bukan hal yang negatif jika saya merasa beban ini berat. bahkan seharusnya, jika memang berat, saya harus segera melepaskannya kan? membuat diri saya bebas lagi dengan jalan yang seharusnya. Dan inilah yang sedang saya lakukan sekarang.

Semangat tidak selalu tumbuh setiap saat dimana kita membutuhkan itu. Itu adalah salah satu kendala dalam setiap sisi kehidupan. Tidak hanya tentang tesis ataupun pekerjaan. Tapi hey, jika tidak dengan semangat, apakah kamu punya bahan bakar yang lebih baik?🙂 Dan satu hal lagi, jika ingin mendapatkan apa yang kita tergetkan, setidaknya kita tahu seberapa besar usaha kita untuk mendapatkan itu. setidaknya kita dapat menilai, pantaskah kita mendapatkan itu dengan usaha yang sebesar itu? Pantaskah?

Semoga saya (juga kamu dan kalian) tersadar bahwa tidak ada hal yang berharga yang didapat dengan cuma-cuma. jadi mulailah dengan pertanyaan ‘Sudah sekuat apakah usaha saya’ ketika kamu merasa kamu gagal dan gagal lalu gagal. Mungkin kamu hanya sedikit kurang berusaha, mungkin kamu hanya sejengkal berjarak dengan kesuksesan. Mungkin kamu hanya perlu belajar lebih lagi.

Semangat! Untuk saya dan kita semua.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s