Thank you, Pap and Mommy

Your children need your presence more than your presents.

~Jesse Jackson

Selamat malam. Ini malam Senin ya? Sedikit kecewa karena saya tahu pasti kalian sedang menjawab dengan ‘iya’ atau anggukan kepala, hihi.

Well, sebenarnya tidak ada yang terlalu lucu atau khusus untuk diceritakan disini. Tulisan ini semata saya buat untuk mengobati kegalauan akibat perasaan yang tidak terlalu baik. Antara perubahan keadaan dari ramai menjadi sendiri (lagi). So, here’s the story.

Sabtu kemarin, saya dikunjungi oleh kedua orang tua saya. Papap dan mamah bukan sengaja (memang) ke Bandung, tapi karena suatu alasan : mengunjungi keluarga nenek buyut saya yang baru saja meninggal satu minggu lalu. Nah, and here things go.

Seperti biasa, kedatangan orang tua selalu menyenangkan untuk saya. Fakta bahwa mereka membawa makanan (yang sungguh) sangat banyak, memang menyenangkan (sejujurnya, hihi). Sekedar informasi, inilah daftar makanan yang Papap dan Mamah saya bawa untuk saya dan masih ada di kamar kos saya dan juga di dalam lemari pendingin di seberang kamar. Monggo dilihat :

1. Ayam goreng siap goreng (sepertinya satu ekor)

2. Sayur Tofu (slurp)

3. Bihun goreng

4. Buah-buahan (Anggur 3 warna : merah, hitam, hijau ; jeruk ; strawberry ; nanas; dan pisang ambon)

5. Roti bread talk

6. Satu panci sayur kacang merah

7. dan lain-lain (malu ah, sudah ya, haha)

Namun tentu bukan sekedar itu. Semua makanan itu hanya menempati satu tempat di dalam diri saya, yaitu perut, hehe. Selalu ada rasa yang (sepertinya) tidak pernah saya ungkapkan atau saya tunjukkan. Misalnya, rasa betapa saya sangat senang dikunjungi mereka, atau fakta bahwa kedatangan mereka sungguh membuat waktu-waktu kesepian (baca : sendirian di kamar and do anything to kill the loneliness) menjadi hilang saat itu juga. Itu sungguh lebih dari apapun. Semua perasaan ini mungkin juga bisa kalian bilang sebagai hal yang berlebihan atau kekanak-kanakan. Tapi hey, bukankah kita semua selalu mempunyai sisi yang satu itu dalam diri kita? Mau setua apapun usia kita, atau sedewasa apapun pola pikir kita. Setuju kan?

And here I am. Mencoba (lagi-lagi) untuk melakukan sesuatu untuk menghilangkan rasa sepi itu. Menulis blog adalah salah satunya. Dan memang tidak ingin berlebihan mengharu biru, karena saya tahu, ini memang sesuatu yang sudah seharusnya. I’ve been here for about 7 years. Jadi seharusnya, malam ini tidak terlalu sulit kan?🙂

Hanya satu yang sebenarnya ingin saya katakan :

Betapapun tidak terungkapnya rasa bahagia saya akan kehadiran kalian disini, Tuhan tahu bahwa itu lebih dari cukup untuk saya.

Thank you, Pap and Ma. Untuk kehadiran, makanan, menonton The Fighter, dan Kampung Daun.

The love of family is life’s greatest blessing

Thank you, Pap

And thanks to you too, Mommy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s