Duh, mas kondektur. Please deh…

Selamat sore, teman2. Selamat bermendung2 dan berhujan2 ria seharian ini. Cuaca yang menyenangkan (jika kamu tidak bepergian tentu) hehe. Bandung seharian ini tetap cantik menurut saya, dengan hujan yang rata disepanjang jalan. Eh, ini tidak objektif sih, kan saya mah selalu cinta Bandung mau bagaimanapun juga, hihi.

Anyway, coba dulu itu dibaca judul postingan saya kali ini. Ada yang ingin mengacungkan tangan dan bertanya apa maksudnya? haha. Okay, untuk itulah saya menyempatkan diri sore2 begini bercerita. Sepertinya sudah lama tidak bercerita hal-hal yang berupa pengalaman konyol pribadi. So, here is the story!

Weekend ini adalah jadwal saya pulang ke rumah saya di Tangerang. Dan kebodohan pertama yang saya lakukan adalalah, saya lupa (lebih tepatnya terlambat) untuk menelpon travel yang biasa saya gunakan. Jadi, singkat cerita, saya tidak mendapatkan tempat di jadwal paling pagi (sayangnya saya memburu jadwal keberangkatan paling pagi karena mengejar jadwal kuliah jam 11 pagi). Jadi, mau tidak mau, tidak ada pilihan. Saya akhirnya memutuskan untuk naik bis A***bi.

Singkat cerita, saya sudah (dengan manis) duduk di kursi urutan kedua dari depan. Sepanjang perjalanan satu jam pertama, yang saya ingat adalah saya sibuk dengan HP saya sambil mendengarkan lagu2 dan sesekali membaca novel yang saya bawa. Nah, tibalah saatnya sang kondektur menagih ongkos bis. Saya bayar dengan terlebih dahulu bertanya : ‘Sekarang ongkosnya berapa ya, mas?’. Sang kondektur menjawab : ’45ribu, neng’ dengan bonus senyum lebar (berlebihan) yang dia berikan. Oke, itu ga penting mungkin ya, haha. Dari sini saya sempat berpikir tidak penting sih. Sejenis suara dalam hati yang sejenis dengan ‘Ini genit atau emang hobi nyengir2 ya?’. haha. lalu saya memberikan uang 50ribu, dan karena belum ada uang kembalian, jadi dia bilang : ‘Nanti ya, neng kembaliannya’. Okay, skip that part😉

Setengah jam kemudian, saya mendumel dalam hati karena ternyata si bis ini (masih saja) lewat jalur tol dalam kota yang ampun2an macetnya. Saya pikir sang supir atau siapapun lah yang berwewenang sudah insaf dengan durasi waktu yang jelas lebih banyak daripada ketika mereka memilih untuk lewat jalur tol JORR. Jadilah saya mendumel dalam hati dan pasrah jika sepertinya hari ini saya terpaksa bolos kuliah karena pasti tidak akan sempat. Saking sebalnya, timbullah rasa kantuk (saya ga ngerti juga darimana hubungan ini datang, haha). Jadi, saya tidur (entah dengan gaya apa). Entah berapa menit kemudian, si mas kondektur ini mencolek saya. Sontak saya bangun dong, antara malu dan setengah sadar. Lalu, saya KAGET. Si mas ini kenapa juga harus duduk disamping saya ya? Kenapa ga sambil berdiri seperti sebelumnya aja? hmmmm… Dia bilang : ‘Neng, ini kembaliannya? mau kan?’. Saya masih dengan setengah sadar dan mencoba stay cool lalu  menjawab ‘mau lah’. lalu, transaksi pun dilakukan. Entah mengapa, kekesalan karena ternyata si bis ini masih disitu2 saja (posisinya tidak banyak berubah dari sebelum saya tidur sampai saya terbangun) saya akhirnya speak up. Saya bilang : ‘Mas, betah amat sih lewat sini? Kan lebih lancar lewat JORR. Malesin banget deh’ dengan ekspresi muka yang BTnya ampun2an ga ketulungan. Si mas ini kaget dan sambil senyum dia menjelaskan alasannya. Bla-bla-bla, lalalalala, lililili. Pertama2 saya merasa bersalah juga karena mungkin bahasa saya kurang sopan. Jadi saya dengarkan alasan mas itu dengan seksama dan prihatin. Alasannya apalagi kalo buka karena mencari penumpang untuk menambah penghasilan. Dan jujur saya, saya jadi tak enak hati.

Okay, minute by minute. Kok di mas ini keterusan ngoceh ya? keterusan betah duduk di samping saya dan yang paling tidak menyenangkan adalah dia juga keterusan mengoceh ke urusan2 pribadi dia yang (maaf) sama sekali bukan urusan saya. Untuk pertanyaan seputar ‘dimana saya berkuliah’, ‘rumah saya dimana’ dan yang saya rasa masih wajar sih ya memang wajar. maksud saya, itu sama sekali tidak sulit untuk dijawab dan terdengar standar kan? tapi jika sudah masuk ke wilayah ‘Suaminya mana, neng?’. Saya cuma bisa jawab ‘Belum, mas’. Dan itulah yang saya sesali kemudian. Seharusnya saya jawab saja ‘Menunggu di terminal’. Dia pasti langsung pergi kan? Iya kan ya? eh, atau ngeyel masih disitu? haha. I dunno. I mean, ini benar2 bukan waktu yang tepat untuk mengobrol dengan orang asing, dengan mood yang tidak baik juga.

So, teruslah dia berkoar tentang apapun. tentang kuliah dia yang putus ditengah jalan, tentang pacar2nya (dia juga dengan PD nya memperlihatkan foto 2 orang cewe di layar hpnya. Duh, penting ya?), tentang kehidupan jadi kondektur, dan lain-lain. Satu point yang ingin saya katakan, saya bukan tipikal orang yang menilai seseorang dari status sosial dia di masyarakat. Karena dia cuma seorang kondektur lalu saya pikir dia dan apa yang dia katakan tidak penting? NO! BUKAN! TIDAK!. Saya justru (pada awalnya) memang menikmati obrolan kami ketika dia dengan semangat bercerita tentang kuliah dia yang terbengkalai dan tidak selesai, tentang gaji yang hanya cukup untuk ini dan itu. Tapi semua itu langsung mengalami antiklimaks dengan kejadian selanjutnya. Lanjutkan membaca ya, belul selesai lho, hehe.

Si mas itu akhirnya pamitan pada saya karena bus sudah masuk ke gerbang tol (yang saya lupa gerbang tol mana) karena dia harus memberikan sejumlah uang untuk pak supir membayar. Saya mengucap syukur (jujur saja). dan asumsi saya, dia seharusnya tidak akan balik lagi duduk di samping saya. Buat apa juga kan balik lagi? kalo cuma untuk curhat kok niat amat? hmm… lalu tiba2 masuklah tiga orang penumpang baru. semuanya pria. Dan diantara mereka,  ada seorang penumpang berusia 50an. Dia menunjuk tempat di samping kursi saya dan terlihat ingin duduk disitu. Lagi2 saya mengucap syukur. Dan setelah beliau duduk disitu, saya pikir semuanya akan lebih menyenangkan. saya bisa konsentrasi dengan novel dan mp3 saya (lagi).

So, inilah kejadian paling aneh yang saya pikir. Si kondektur mendatangi kursi saya dan bilang ‘Eh, kamu duduknya pindah saja disana. sama saya. kan kita belum selesai ngobrolnya’. What? What?! WHAT!!!! Oh Tuhan, ini hal paling tidak masuk akal sungguh. Saya dengan santai dan muka yang sepertinya sudah kehilangan kontrol menjawab : ‘hah, Aduh kayanya ga deh ya, Mas’. Lalu diapun pergi. Saya lega. Sayangnya lega itu cuma sekitar 3-5 menit. Dia ternyata mendekati si bapak yang sudah dengan santai duduk di samping saya dan berbicara sesuatu yang intinya adalah : ‘Bapak silahkan pindah ke kursi lain. Saya mau ngobrol dengan dia’. Duh, Tuhan. Duh, Mas. Haduh… *tepok jidat* Well, sampai tahap ini saya mulai ketakutan (jujur saja). Maksud saya, saya optimis dia tidak akan macam2. Cuma ini memang benar2 tidak menyenangkan. Perilaku aneh dan random sekali. Wow!

Okay, singkat cerita mas ini ternyata memang haus teman curhat. atau kesimpulan lain adalah dia memang hobi bercerita dengan orang asing. Oh, apapun itu, saya tetap mendengarkan apa yang dia bicarakan (walau jujur saya memang malas sekali). Dan saya juga tetap menjawab pertanyaan yang saya rasa standar. Saya menoleh ke papan jarak jalan tol (dalam satuan kilometer). Dan malang sekali saya, saya pikir. karena ternyata ini papan masih di angka 40an. masih 80an kilometer lagi untuk menuju bandung. Oh… -____-”

Anw, ini dia rangkuman percakapan kami yang saya garis bawahi, karena ini teringat terus dan menyebalkan sekali…

Percakapan tidak menyenangkan 1 :

Dia : jadi nanti mau kerja dimana?

Sy : (menyebutkan 2 mana perusahaan BUMN)

Dia : idih, ngapain kerja disitu. Rugi tau udah s2. paling jadi apa disana

Sy menjawab  (dalam hati –> Sotoy marotoy ni orang. kenal ITB ga sih?). lalu saya pikir lebih baik untuk diam. tahan sampai saya tidak kuat untuk diam, saya pikir.

Dia : temen saya saja kerja disana ga butuh bakat apa2 tuh, dia cuma bisa ngetik doang. Cuma jadi kasir (or something. Saat ini saya langsung menyetel mp3 saya dengan volume besar)

Percakapan tidak menyenangkan 2 :

Dia : Kenapa kamu ga masuk jadi PNS aja? Enak kan tuh. palingan juga ga mahal2 banget biayanya, ga sampe 100juta lah.

Sy : Oh, maaf ya mas. Saya ga pegang prinsip keluarkan uang untuk mencari uang. Lagipula, kayanya saya ga perlu tuh pake kaya gituan.

Dia : eh, jangan salah, sodara aku aja yang pinter banget ga lulus lho. padahal dia beneran pinter banget.

Sy : yah itu kan sodara, mas. kan tiap orang beda2 prinsip hidupnya.

Dia : diam

Sy : (dalam hati lagi —> YES!)

Percakapan tidak menyenangkan 3 :

Dia : Nanti kalo kita ketemu untuk yang selanjutnya, kamu ga usah bayar. Bilang aja kamu temen saya. Semua orang sudah kenal kok sama saya….

Sy : Oh, gitu ya. (dalam hati : Sok tenar abis ni orang)

Percakapan tidak menyenangkan 4 :

Dia : Nah, kalau kamu ga punya uang trus lagi ada di terminal Leuwi Panjang, kamu telp saya aja. Pasti beres deh semuanya. Eh tapi kamu ga ada nomor saya ya? Kalo gitu, kita tukeran nomor aja, gimana?

Sy : (dengan kepala mau meledak dan kesabaran mau meletus) Oh, tenang mas. Saya cukup cerdas untuk memutuskan ga ke terminal JIKA SAYA GA PUNYA UANG. Lagipula, saya ga biasa memberi nomor HP sama orang asing’

HAHAHAHA! asli puasnya pol banget ngomong ini.

Hmmm, kayanya segitu aja percakapan paling membekas. Selebihnya masih masuk kategori menyebalkan juga, cuma ga terlalu membekas lah. hahaha…

Well, ada yang mau komentar?😉

4 thoughts on “Duh, mas kondektur. Please deh…

  1. hahahaha…. gw ngakak ama cerita yg “Percakapan tidak menyenangkan 4 :” emang gaya cow minta no hp cew beda2 ya…

  2. hehehehe… setelah gw baca2 blog lo, keren2 tulisan lo ya… ga nyangka aja tia y pendiam, kalo nulis keren abiz…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s