Puisi Cahaya Bulan

akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yg biasa
pada suatu ketika yg telah lama kita ketahui
apakah kau masih selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap
sambil membenarkan letak leher kemejaku

kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih
lembah bandalawangi
kau dan aku tegak berdiri
melihat hutan-hutan yg menjadi suram
meresapi belaian angin yg menjadi dingin

apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika kudekap, kau dekaplah lebih mesra
lebih dekat

apakau kau masih akan berkata
kudengar detak jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta

cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan
yg takkan pernah ku tahu dimana jawaban itu
bagai letusan berapi bangunkanku dari mimpi
sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati

PS :

yes, kamu benar (apa coba? hehe) ini memang puisi di film GIE. well, gw pribadi ga terlalu suka filmnya. abisnya dia sukses (dan ini satu2nya film) bikin gw tidur dengan nyenyaknya di bioskop. hebat kan? haha

anw, bukan mau ngomongin filmnya sih, cuma mau bilang, puisi ini manis banget, hehe. terlebih paragraf yang gw italic-in. suka juga? menurut lo gimana?😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s