Kemarin, adalah hari Ibu
Kemarin, Mama minta diantar ke Tanah Abang denganku.
Sejujurnya, saya tidak yakin akan sampai di sana. Pertama tentu karena saya tidak punya pengalaman ke suatu tempat yang saya tidak tau dengan mengendarai kendaraan sendiri, terlebih dengan adanya Mama sebagai boncengan. yang terakhir karena, jauh. tentu saja jauh dari Tangerang, dengan diantar Papap saja rasanya kok tempat ini terletak jauh sekali.
Mungkin logikanya saya bisa saja menolak ya? Namun rasanya tidak plong menolak permintaan Mama tepat di Hari-nya (Hari Ibu). saya (sebisa mungkin) ingin menyenangkannya.
Nothing so special about that, except : I know that she’s happy.
Surgalah itu, Ibu
tempat pertama kali aku hidup,
dari rahim seorang wanita sepertimuSurgalah itu, Ibu
barisan kata-kata yang tak pernah lelah kau ucapkan,
berikut air mata sebagai lekatnya permintaan,
aku tahu kau mendoakan anak-anakmu pada TuhanSurgalah itu, Ibu
semua pengorbananmu atas masa kecilku,
atas waktu-waktu bermain yang mungkin jarang kau berikan,
atas materi kehidupan yang selalu kau ajarkan,
aku tahu,
semua itu agar aku mengerti pentingnya kemandirianSurgalah itu, Ibu
semua peluh yang kau sembunyikan,
semua risau yang hanya mampu kau rasakan,
aku tahu,
kau hanya ingin aku diselimuti ketenanganlalu jika Tuhan menawarkan kebahagian,
akan kusebut satu nama untuk Dia dahulukan,
‘surgaku’,
: surgaku adalah kau, Ibu.Selamat Hari-mu, Mama.
Aku tak akan mampu menjadi seorang aku, jika tanpa kasihmu.Tangerang, 22 desember 2011
- Tia Setiawati Priatna
